islami

islami

Minggu, 17 April 2011

    Kebanyakan  kita mempunyai kebiasaan menunda-nunda berbuat kebaikan, karena rasa malas, selalu mengatakan "nanti sajalah ..masih banyak waktu..." menunda-nunda untuk belajar, menunda-nunda untuk membaca  Al-qur’an, atau melakukan hal yang manfaat lainnya, padahal itu semua masih amat mungkin dilakukan.
    Padahal kita tidak tahu sampai kapan umur kita ini, apakah masih ada hari esok,atau bagaimana 1 jam kedepan..?atau bahkan 1 menit kedepan. Kita tidak akan pernah tahu apakah masih ada kesempatan untuk kita berbuat kebajikan.
   menunda-nunda kebaikan, ini adalah bagian dari “tentara-tentara iblis”. Demikian kata sebagian ulama salaf.
  Menunda-nunda kebaikan dan sekedar berangan-angan tanpa realisasi, kata Ibnul Qayyim bahwa itu adalah dasar dari kekayaan orang-orang yang bangkrut.


Al Hasan Al Bashri berkata, “Hati-hati dengan sikap menunda-nunda. Engkau sekarang berada di hari ini dan bukan berada di hari besok. Jika besok tiba, engkau berada di hari tersebut dan sekarang engkau masih berada di hari ini. Jika besok tidak menghampirimu, maka janganlah engkau sesali atas apa yang luput darimu di hari ini


Hasan Al Bashri mengatakan, “Wahai manusia, sesungguhnya kalian hanyalah kumpulan hari. Tatkala satu hari itu hilang, maka akan hilang pula sebagian dirimu.”



kesibukan ulama silam akan waktu mereka. Sempat-sempatnya mereka masih sibukkan dengan dzikir dan mengingat Allah.
Dari Abdullah bin Abdil Malik, beliau berkata, “Kami suatu saat berjalan bersama ayah kami di atas tandunya. Lalu dia berkata pada kami, ‘Bertasbihlah sampai di pohon itu.’ Lalu kami pun bertasbih sampai di pohon yang dia tunjuk. Kemudian nampak lagi pohon lain, lalu dia berkata pada kami, ‘Bertakbirlah sampai di pohon itu.’  Lalu kami pun bertakbir. Inilah yang biasa diajarkan oleh ayah kami.” Subhanallah … Lisan selalu terjaga dengan hal manfaat dari waktu ke waktu
Semoga Allah memudahkan kita untuk memanfaatkan waktu kita dengan hal yang bermanfaat dan menjauhkan kita dari sikap menunda-nunda.

Maksiat

- Maksiat dan dosa mempunyai pengaruh yang sangat dahsyat dalam kehidupan umat manusia. Bahayanya bukan hanya berpengaruh di dunia tetapi sampai dibawa ke akhirat.
Semua kemaksiatan yang dilakukan oleh manusia, baik yang besar maupun yang kecil, bermuara pada tiga hal:
   Pertama; terikatnya hati pada selain Allah
   kedua; mengikuti potensi marah,
   ketiga; mengikuti hasrat syahwat.
   Ketiganya adalah syirik, zhalim, dan keji


Sesungguhnya seorang hamba jika melakukan dosa, maka terbentuklah noda hitam dalam hatinya. Jika ia melepaskan dosa, istighfar dan taubat, bersihlah hatinya. Ketika mengulangi dosa lagi, bertambahlah noda hitamnya, sehingga menguasai hati
agar terhindar dari jebakan kemaksiatan, manusia harus melakukan tiga hal yaitu: 
   pertama; menguatkan keimanan dan hubungan hati dengan Allah swt. dengan senantiasa mengikhlaskan segala amal perbuatan hanya karena Allah. 
   Kedua; mengendalikan rasa marah, karena marah merupakan pangkal sumber dari kezhaliman yang dilakukan oleh manusia.
   ketiga; menahan diri dari syahwat yang menggoda manusia sehingga tidak jatuh pada perbuatan zina


- Pengaruh kemaksiatan pada diri manusia antara lain:
-1. Lalai dan keras hati
 2. Terhalang dari ilmu dari rezeki
 3. Kematian hati dan kegelapan di wajah
 4. Terhalang dari penerapan hukum Allah
 5. Hilangnya nikmat Allah SWT
  
- Debu yang menempel pada kaca rumah kita ,jika dibersihkan setiap hari ,niscaya kaca akan selalu bersih.tetapi jika dibiarkan maka lambat laun akan semakin sulit bagi kita utk membersihkannya. Begitu juga dgn kita jika setiap hari kita selalu memohon ampun pada Allah akan dosa-dosa kita, maka niscaya kita pun bersih dari dosa-dosa.Akan tetapi jika kita biarkan ,kita enggan istighfar memohon ampunan-Nya maka niscaya hati kita pun semakin kotor dan semakin sulit untuk menerima kebaikan-kebaikan.


Oleh karena itu umat Islam dan para pemimpinnya harus berhati-hati dari jebakan-jebakan cinta dunia dan ambisi kekuasaan. Jauhi segala harta yang meragukan apalagi yang jelas haramnya. Karena harta yang syubhat dan meragukan, tidak akan membawa keberkahan dan akan menimbulkan perpecahan serta fitnah. Kemaksiatan yang dilakukan oleh individu, keluarga, dan masyarakat akan menimbulkan hilangnya nikmat yang telah diraih dan akan diraih.